Selasa, 23 Juli 2013

DIURAPI UNTUK MELAYANI TUHAN


 Oleh Pdt.Yusuf Eko Widiarto
Pendahuluan:


Dalam konsernya, Niccolo Paganini sedang memainkan biolanya tetapi tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, tetapi dia meneruskan permainan biolanya. Yang sangat mengejutkan terjadi lagi yaitu senar biola yang lain pun putus satu persatu dan hanya meninggalkan satu senar saja. Tetapi Niccolo Paganini tidak menyerah, dia memilih untuk terus memainkan biola dengan satu senarnya sampai selesai dan sungguh luar biasa peristiwa ini justru mengangkat namanya lebih terkenal lagi.[1]
Mengapa Niccolo Paganini berhasil mengatasi masalahnya? Karena dia tidak melihat kepada senar-senar yang putus, dia tidak mau ditentukan oleh senar-senar yang putus, tetapi memilih untuk melihat dan menggunakan apa yang masih dia miliki yaitu satu senarnya.
Tetapi masih ada Pelayan Injil[2] lebih melihat apa yang tidak ada sehingga merasa tak mampu melayani Tuhan. Renungan hari ini mengajak  untuk memfokuskan perhatian bukan kepada hal-hal yang tidak ada tapi pada apa yang yang pasti masih dimilikinya yaitu Tuhan Yesus yang telah menjanjikan Sang Penolong, Roh Kudus  (Kis.1:4-5,8) sehingga menjadi seorang Pelayan Injil yang diurapi untuk melayani Tuhan.

Pengurapan Dalam Alkitab
Dalam Perjanjian Lama orang untuk menjadi raja (Hak.9:8; 2 Sam 2:4; 1 Raja 1:34), imam besar (Kel. 28:41) dan  nabi (1 Raja 19:16).[3]
Pengurapan itu menghasilkan sesuatu atas yang diurapi, orang  menjadi kudus (Kel. 30:22-33) dan keramat (tak boleh dilukai) (1 Sam. 24:7).[4]
Secara asasi pengurapan adalah tindakan Allah (1 Sam. 10:1). Karena itu istilah 'diurapi' dapat berarti sudah menerima karunia ilahi (Mzm 23:5; 92:10). Atau, sudah diberi tempat atau fungsi istimewa dalam rencana Allah (Mzm 105:15; Yes. 45:1). Selanjutnya, pengurapan melambangkan perlengkapan untuk pelayanan, dan dihubungkan dengan pencurahan Roh Allah (1 Sam. 10:1, 9; 16:13; Yes. 61:1; Za. 4:1-14).
Hal ini diberlakukan juga dalam Perjanjian Baru (Kis. 10:38; 1 Yoh. 2:20, 27). Pemakaian minyak untuk mengurapi orang sakit dalam Yak. 5:14, paling baik dimengerti sebagai menunjuk kepada Roh Kudus, pemberi kehidupan.
 Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada- Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan- Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu dan pengajaranNya itu benar, tidak dusta dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal dalam Dia” (I Yohanes 2:26-27).
Perhatikan kata ‘pengurapan’ di atas berasal dari kata dalam bahasa Inggris, yaitu to anoint = mengurapi, diurapi yaitu diolesi atau disiram dengan minyak. Pengurapan mempunyai tujuan. Seorang diurapi dengan tujuan untuk memegang tugas jabatan tertentu. Daud diurapi dengan minyak oleh Samuel untuk menjadi raja. Harun diurapi untuk memegang jabatan imam besar.

Ciri Pelayan Injil yang Diurapi untuk Melayani Tuhan: S-I-P
Ciri Pelayan Injil yang diurapi untuk melayani Tuhan adalah Pelayan Injil yang S-I-P yaitu Melayani bukan hanya dilayani (Servant of God), Melayani dengan impartasi kuasa Roh Kudus (Imparter), dan Melayani penuh kuasa Roh Kudus (Powerful).

Melayani bukan hanya dilayani (Servant of God)
Pelayan Injil yang melayani bukan hanya dilayani atau dengan bahasa lain,“Jangan Hanya Dilayani”[5] sebaliknya sadar bahwa dirinya  adalah seorang ‘Pelayan Tuhan’ (Servant of God).
Rasul Petrus mengingatkan, “layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah” (1 Pet. 4:10). Seorang Pelayan Injil harus berkomitmen untuk melayani dengan karunia yang ada. Bahkan Tuhan Yesus memberikan teladan pelayanan ketika Ia membasuh kaki semua murid-Nya. Dan, Tuhan Yesus pun jauh-jauh hari telah menegaskan, “…sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28). Tuhan Yesus selalu bertindak cepat untuk melayani umat-Nya.
Kiranya setiap Pelayan Injil akan menjadi seorang yang tidak hanya NATO artinya No Action Talk Only (hanya bicara tidak ada tindakan). Kunci dari segalanya adalah menjaga integritas diri seorang Pelayan Injil agar selalu melayani dan bukan menuntut untuk dilayani saja!
Jika ia adalah seorang gembala sidang, maka ia  harus senantiasa meneladani pola penggembalaan Tuhan Yesus, Sang Gembala Agung yang berkomitmen dan telah membuktikannya yaitu ‘berkorban’ bagi domba-domba-Nya.
Memetik pelajaran dari setiap kejadian yang ada bahwa jangan sampai ada yang menjadi korban karena gara-gara kesalahan tindakan Pelayan Injil. Jika, suatu program tidak tercapai bukan karena orang yang dilayaninya yang tidak bisa melaksanakannya, melainkan dari Pelayan Injil-lah yang belum bisa memberikan teladan untuk melaksanakannya. Jika orang yang dilayani tidak bertumbuh ada kemungkinan karena Pelayan Injil-nya juga tidak bertumbuh. Ada pepatah, “Jika melihat buah harus melihat pohonnya”. Bukankah tidak mungkin jika buah semangka berasal dari pohon mangga?
Biarlah setiap Pelayan Injil meminta kekuatan oleh Roh Kudus untuk senantiasa berkomtimen dan melayani dengan baik orang yang dilayaninya. Bahkan, VIP service harus menjadi motto agar setiap orang yang kita layani, jemaat yang dilayani merasa dipuaskan dan diberkati dengan pelayanannya.
Pelayanan Tuhan Yesus sebagai model pelayanan adalah ‘menyelamatkan’ seluruh umat manusia di muka bumi ini dan “barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal”(Yohanes 3:16).
SELALU SIAP MELAYANI” bergema dalam diri setiap Pelayan Injil, maka orang yang dilayaninya akan mengikuti jejak teladannya. Kiranya, setiap Pelayan Injil selalu melayani dan bukan dilayani!

Melayani dengan impartasi kuasa Roh Kudus (Imparter)
Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kisah Rasul 3:6).
            Seorang Pelayan Injil yang melayani dengan impartasi kuasa Roh Kudus akan menjadi seorang “Imparter. Seseorang disebut imparter jika hidupnya digunakan untuk mengimpartasikan sesuatu kepada orang lain dan yang diimpartasikan itu adalah segala hal yang baik yang berasal dari Tuhan, sehingga orang tersebut mengalami perubahan di dalam hidupnya.
Seorang imparter harus punya sesuatu untuk diimpartasikan. Petrus adalah imparter Petrus memiliki itu sehingga ketika dia bertatapan dengan mata orang lumpuh itu, dia berkata, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu!” Kuncinya bukan terletak pada emas dan perak, tetapi pada sesuatu yang tidak terlihat mata, yang ada di dalam hidup Petrus. Apa itu? Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"
Petrus punya Yesus yang luar biasa di dalam hidupnya dan itulah yang dibagikannya kepada orang lain ! Bagaimana dengan para Pelayan Injil yang melayani saat ini?
Hari-hari ini Tuhan sedang membangkitkan satu generasi seperti Petrus. Generasi imparter yang bergerak tidak dengan mengandalkan emas dan perak, tetapi dengan kuasa di dalam dirinya. Itulah yang menjadi isi hati Allah bagi dunia hari-hari ini. Dia mencurahkan Roh-Nya untuk membuat kita memiliki sesuatu yang bisa kita bagikan kepada orang lain supaya orang lain mengalami pemulihan. Petrus punya kuasa Roh Kudus di dalam dirinya.
Itulah yang membuat Rasul ini melayani dengan kuasa Roh Kudus. Siapa yang dipakainya menjadi imparter? Adalah orang yang mau diurapi dengan kuasa Roh Kudus. Siapa? Allah rindu menemukan hal itu di dalam diri setiap Pelayan Injil !
Diurapi dengan kedahsyatan adalah kuasa Roh Kudus yang bermanifestasi di dalam diri dan melalui seorang imparter. Kuasa itu sudah tersedia. Sudah dicurahkan sejak ribuan tahun yang lalu. Minta kuasa itu dicurahkan atasmu. Jangan sampai terjadi orang lain mendapatkan apa yang kita cari. Jadilah wadah dimana Roh Kudus bekerja.
Wadah itu adalah hidup, pekerjaan, pelayanan dan seluruh totalitas kita. Dapatkan kuasanya untuk menjadi seorang imparter!


Melayani Penuh kuasa Roh Kudus (Powerful)
Yesus disebut Kristus, artinya “Yang diurapi”. Dia melakukan pekerjaan-Nya dengan urapan Roh Kudus yang diterima-Nya dalam sebuah peristiwa ketika Yesus dibaptis air di sungai Yordan, dan setelah itu turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati (Mat. 3:16).
Tuhan Yesus menyembuhkan orang-orang sakit dan melepaskan orang-orang yang dirasuki setan dengan Roh Kudus (Mat. 12:28; Kis 10:38). Segala mujizat yang dilaksanakan-Nya adalah mujizat Roh Kudus, Ia berikan kuasa Roh Kudus kepada keduabelas murid-Nya dan kemudian 70 murid-Nya untuk memberitakan Injil yang disertai dengan mujizat kesembuhan dan kelepasan (Mat. 10:1-15; Luk 10:1-20).
Sebelum naik ke sorga Ia perintahkan 120 murid-Nya untuk tinggal di Yerusalem, sampai mereka sekalian terima Kuasa Roh Kudus, agar bisa menjadi saksi-saksi-Nya dari Yerusalem sampai ke ujung bumi (Kis. 1:4-8, 2:14).
Pelayanan hamba-hamba Tuhan seperti Rasul Petrus, Stefanus, Rasul Paulus, dan seterusnya hingga kepada hamba-hamba Tuhan yang melayani sekarang ini yang melanjutkan pelayanan Tuhan Yesus Kristus di bumi, mereka melayani  penuh kuasa Roh Kudus.

Rasul Petrus 
 Dalam pelayanan Rasul Petrus sampai bayangannya menyembuhkan orang sakit (Kisah 5:15). Sering ketika rasul ini lewat, orang-orang sakit dibaringkan di sisi jalan yang hendak dilewatinya. Walaupun rasul ini tidak secara khusus menumpangkan tangan atas orang-orang sakit itu, namun oleh iman mereka, maka Roh Kudus di dalam diri Petrus langsung bekerja, menyembuhkan orang-orang yang sakit, walaupun “tidak secara khusus” diminta oleh Petrus.
Rasul Petrus telah membawa ribuan orang Yahudi kepada Kristus oleh kuasa Roh Kudus (Kis. 5:12-16).

Stefanus 
Dalam Kisah Para Rasul 6:3,5,8 terdapat tiga kata yang selalu didahului dengan kata ‘penuh’ yaitu penuh Roh, penuh hikmat, penuh iman, penuh karunia, penuh kuasa.  Stefanus adalah seorang pelayan Tuhan yang penuh artinya melayani secara total. Melayani dengan sepenuh hati dan  sepenuh hidupnya.

Rasul Paulus
Rasul Paulus dan kawan-kawan telah menjungkir-balikkan dunia kafir dengan kuasa Roh Kudus (Kis. 17:6; Roma 15:18-19). Pelayanan Rasul Paulus dapat disimak dari pelayanannya sesudah pertobatannya hingga perjalanan misinya (Kis.9:20 - 21:8)
Dengan landasan pemikiran yang sama, para Pelayan Injil untuk melanjutkan pelayanan Tuhan Yesus di bumi hendaklah melayani penuh kuasa Roh Kudus.
Melayani penuh kuasa Roh Kudus berarti bukan melayani setengah-setengah, bukan melayani kalau ada keuntungan dari dalamnya, tetapi melayani dalam segala keadaan. Tuhan tidak mau kita melayani setengah hati yaitu hanya sekedar melakukan kewajiban. Tetapi kalau kita dipercayakan melayani, Tuhan minta pelayanan yang sepenuh hati. Sehingga pelayanan  kita menjadi pelayanan yang memuliakan Tuhan. Setiap pelayanan kita dituntut pertangungjawaban tetapi juga akan dipahalai dengan segala berkat dan kemuliaan Tuhan kalau kita melayani sepenuhnya.
       Ketika mulai percaya, menerima Roh Kudus, karunia Allah. Karunia Roh Kudus yang sudah tinggal di dalam dirinya, seorang Pelayan Injil dapat memanifestasikan sifat-sifat Allah dan juga memanifestasikan kuasa Allah, dan manifestasi Roh Kudus dapat bekerja melalui iman.  Jadi seberapa besar iman yang dimilikinya, sebesar itu juga karunia Roh Kudus dapat bermanifestasi.
Melayani Tuhan merupakan sebuah pengalaman penting yang bisa mengubah kehidupan Pelayan Injil  menjadi penuh kuasa atau “powerful”. Seorang menjadi powerful karena dirinya dipenuhi oleh Roh Kudus bahkan diberikan kuasa untuk memberitakan Injil sampai ke ujung bumi (Kis.1:8).

Penutup
Dalam sebuah kesempatan, Yesus bersabda: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;” (Yoh. 14:12). 
Ayat tersebut mengajarkan bahwa Tuhan  menghendaki agar setiap orang percaya (termasuk Pelayan Injil) di segala zaman dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan sama seperti yang Yesus pernah lakukan, dan bahkan ada peluang untuk melakukan pekerjaan yang lebih besar lagi.
Selanjutnya perlu kita perhatikan nasehat dari  William W.Menzies dan Stanley M.Horton:
            “Mereka yang telah dipanggil  untuk   pelayanan khusus     hendaknya    tidak    
            berusaha untuk menduduki  posisi  tertinggi, tidak juga mencari kemasyhuran,
            kuasa duniawi, atau hak istimewa.    Sebaliknya, pelayanan penuh kasih, setia,
            rendah hati, memberikan diri mereka   kepada Tuhan     dan kepada orang lain,
            akan menandai semua perbuatan mereka.  Allah yang akan mengatur kenaikan
            pangkat mereka, jika itu kehendak-Nya.”[6]
            Akhirnya, Penulis ingin mengajak setiap Pelayan Injil yang “Diurapi Untuk Melayani Tuhan” agar menjadi Pelayan Injil yang  S-I-P yaitu ‘Servant of God’, ‘Imparter’, dan ‘Powerful’, melanjutkan pelayanan Tuhan Yesus disertai dengan kedewasaan rohani dan karakternya untuk Cinta Tuhan, Rendah hati, Jujur dan Rajin sehingga banyak jiwa yang diselamatkan, jemaat yang dimuridkan menjadi dewasa dan gereja bertumbuh, serta setia memberitakan Injil Kerajaan Allah  bagi kemuliaan Tuhan.




[1]Disarikan dari http://www.suplemengki.com/dipersiapkan-diperlengkapi-untuk-melayani/
[2]Istilah Pelayan Injil untuk menjelaskan seorang Pelayan Tuhan dalam organisasi GSJA dalam seluruh jenjang kependetaannya baik Surat Keterangan, Pendeta Pembantu, Pendeta Muda dan Pendeta (sesuai Tata Gereja dan Peraturan Pelaksanaan GSJA di Indonesia). Untuk membedakan dari istilah Hamba Tuhan, sebab setiap orang percaya (termasuk jemaat yang bukan Pelayan Injil atau anggota kependetaan GSJA) yang hidup dan melayani Tuhan juga disebut sebagai Hamba Tuhan.
[3]http://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=Pengurapan. Pengurapan itu sendiri melambangkan karya Roh Kudus dalam menguduskan dan melengkapi orang untuk melayani Tuhan. Dalam PL, imam (Kel 30:30), para nabi (1 Raj 19:16), dan raja-raja (1 Raj 1:34) diurapi dengan minyak sebelum memulai tugas mereka. Mesias atau Kristus artinya "Yang diurapi". Yesus diurapi oleh Roh Kudus (Luk 4:18) menjadi Nabi, Imam dan Raja. Begitu pula, kita diurapi oleh Roh Kudus (2 Kor 1:21; 1 Yoh 2:27) dan dimampukan menjadi imamat yang rajani (1 Ptr 2:9). Kel 30:30; Im 8:12.
[4] idem
[5]Disarikan dari artikel “JANGAN HANYA DILAYANI” bersumber dari “CORETAN HARIANKU” ditulis oleh Pdt.Yusuf Eko Widiarto (yang dikirimkan via email kepada Sekretaris Umum BPP GSJA di Indonesia, Pdt.Budi Setiawan saat itu:wed, Jun 22,2011 at 8.33 AM) dan telah dimuat dalam website GSJA di Indonesia (www.org) pada tanggal 22 Juni 2011 dan dimuat dalam Majalah Pelayan Injil GSJA di Indonesia  “Kerygma” Vol.15,2011.

[6] William W.Menzies dan Stanley M.Horton, Doktrin Alkitab. Cetakan Keempat. (Malang: Penerbit Gandum Mas, 2011), hal.187-188.

Kamis, 07 Maret 2013

BPD GSJA Banten Periode 2013-2016

Pdt. I.Kaihatu selaku Ketua Umum GSJA di Indonesia dan Pembina Daerah Banten telah melantik BPD GSJA Banten terpilih untuk Periode 2013-2016 dalam Rapat Daerah Ke 2 GSJA Banten pada tanggal 5-7 Maret 2013 di Villa Bunga Bunga Cisarua Jawa Barat.


BPD GSJA Banten Periode 2013-2016 antara lain:

Ketua  : Pdt.Sukamto,MA

Wakil Ketua : Pdt. Samuel Darmanto,B.Min

Sekretaris : Pdt.Yusuf Eko Widiarto,M.Th

Bendahara : Pdt.Jenny S.Kosasih,MA

Komisaris: Pdt.Efendi Sinurat,MA


Kiranya Anggota BPD terpilih sebagai Pelayan Tuhan bisa menjalankan tugas pelayananannya selama 3 tahun dengan Cinta Tuhan, Rendah hati, Jujur dan Rajin bagi kemuliaan Tuhan.


Kamis, 21 Februari 2013

Selayang Pandang GSJA-Ku Sayang Di Banten



 
Pendahuluan
            Sejarah pelayanan GSJA di Banten tidak lepas dari keberadaan GSJA di Jakarta yang sempat secara berturut-turut di bawah kepemimpinan BPD GSJA DKI Jakarta/Jawa Barat/Sumatera Bagian Selatan, kemudian berkembang menjadi BPD GSJA DKI Jakarta/Jawa Barat/Banten, dan akhirnya pada Rapat Daerah Tanggal 15 Maret 2007 masing-masing provinsi menjadi BPD Definitif yaitu BPD DKI Jakarta, BPD Jawa Barat, serta BPD Banten.

GSJA di Jakarta
Sejarah dimulai perintisan gereja baru GSJA di Banten berasal dari sebuah gereja di Jakarta (awalnya Pos PI atau cabang gereja) dan juga Pelayan Injil yang merintis mandiri (bukan Pos PI atau cabang gereja tersebut).
Salah satunya adalah GSJA Jl.Batu Tulis No.43 Jakarta Pusat. Gereja ini bermula dari sebuah persekutuan (dibawah naungan Pinkster Gemeente) ini sudah berdiri sejak tahun 1922, digembalakan oleh Pdt.Dick Van Klavern yang kemudian pindah ke Jalan Pecenongan Nomor 54. Pdt.Dick Van Klavern meninggal dunia tahun 1944.
Tahun 1946 hingga tahun 1951, Pdt. R.A Busby menggembalakan Gereja ini. Dalam penggembalaannya, Pdt. R.A Busby mendirikan Jakarta Bible Insitute pada tanggal 9 September 1946 dengan salah seorang alumninya, The Boen Thay yang kemudian hari membatu pelayanan Pdt.Busby di Gereja Jalan Pecenongan No.54 Jakarta. Kemudian tahun 1950, seorang pemuda The Boen Thay menjadi wakil gembala. Selanjutnya, tahun 1951, Pdt The Boen Thay (kelak kita kenal dengan nama Pdt Jetro Bunyamin), menjadi gembala sidang.
Sebidang tanah di belakang Jalan Pecenongan No.54 Jakarta yaitu Jalan Batu Tulis No.43 Jakarta dibangunlah bangunan megah Gereja ini dan pada tanggal 17 November 1962 ditahbiskan sebagai GSJA BT43 Jakarta.
Pada tanggal 28 Februari 1999, bersamaan dengan hari ulang tahun Pdt Jetro Bunyamin ke 80, beliau mengundurkan diri sebagai gembala senior dan atas permintaan Majelis Gereja setempat, Badan Pengurus Daerah DKI Jabar/Sumbagsel mengangkat Pdt Stefanus Wirawan M.Min sebagai pejabat gembala. Beberapa bulan kemudian, jemaat dengan suara bulat, memilih beliau menjadi gembala, sampai saat ini.
GSJA Jalan Batu Tulis 43 Jakarta membuka cabang-cabang Gereja di Jakarta, Jawa Barat dan Banten, salah satunya adalah GSJA Gading Serpong.
Tidak hanya itu saja GSJA Jl.Bandengan Selatan yang dirintis 11 September 1963 dan digembalakan oleh Pdt.Jonatan Irwan Pribadi hingga kini pun merupakan  salah satu Gereja yang membuka cabang-cabang Gerejanya di Jawa Barat, Banten, bahkan luar Jawa. Bermula pada tahun 1982 Pdt.Jonatan Pribadi memulai penggembalaannya di GSJA Jembatan Hitam (lokasi awal GSJA Jl.Bandengan Selatan Jakarta).
            Setelah kembali dari Korea, Pdt.Jonatan Pribadi dengan semangat membuka perintisan gereja baru dan pelayanan cabang gereja antara lain: GSJA Teluk Gong (cabang-cabangnya: Kebon Jahe,Villa Taman Bandara, Kapuk Muara, dan Jelambar), GSJA Cengkareng (cabang-cabangnya: Menceng Jaya, Lingkungan III Tegal Alur, Fajar Baru dan Kampung Duri), GSJA Karawaci (cabang-cabangnya: Duta Lestari, Kampung Legok dan Cimone Permai), GSJA Royal (cabang-cabangnya: Bhakti dan Sinar Budi), GSJA Kapuk (cabangnya: Kapuk Sawah), GSJA Songsi (cabang-cabangnya: Poris Indah dan Cengkareng Indah), GSJA KFT Jakarta dan GSJA Griya Dadap Estate yang digembalakan oleh Pdp.Leodehon Suprayogi hingga sekarang.
            Selanjutnya Gereja ini secara resmi berpindah ke Jalan bandengan Selatan No.41 Jakarta Barat dengan ditandai pentahbisan Gereja pada tanggal 28 Agustus 1993 menjadi GSJA Bandengan Selatan hingga kini.
            Juga ada GSJA CWS Kenanga, yang awalnya dirintis oleh Mr.Carl Chrisner pada Nopember 1974. Kebaktian-kebaktian tersebut pernah diadakan di hotel Indonesia sejak Nopember 1974 hingga Agustus 1979. Kemudian karena pertumbuhan jemaat yang begitu cepat, kebaktian dipindahkan ke Hotel Hyatt Aryaduta pada tahun 1979-1982, dan kemudian ke Jalan Bungur Besar, Jakarta, pada tahun 1982-1984. Akhirnya Tuhan menyediakan sebuah gedung di Jalan Senen Raya 46, Jakarta, untuk menjadi tempat ibadahnya sampai sekarang.
Pada tahun 1985, Pdt. Curtis Myers menyerahkan kepemimpinan kepada Pdt. Suwandoko. Kebaktian-kebaktian dalam bahasa Indonesia kemudian diadakan dan cabang-cabang yang baru mulai dibuka diantaranya GSJA “CWS Aletheia” yang dirintis dan digembalakan oleh Pdt.Davy FJ.Sondakh hingga sekarang.
            Kita mendapatkan tali-temali sejarah perintisan dan pelayanan GSJA di Banten dari pelayanan GSJA di Jakarta di atas.

Periode Perintisan dan Pelayanan GSJA di Banten
            Penyusun secara khusus membuat periodesasi perintisan dan pelayanan GSJA di Banten dengan tujuan lebih  memahami dengan istilah dasawarsa (masa sepuluh tahunan) yaitu tahun 1980-1989, tahun 1990-1999, tahun 2000-2010, dan tahun 2011- hingga sekarang.

Periode Tahun 1980-1989
            GSJA Pademangan, Jakarta juga membuka cabang gerejanya pada bulan Agustus 1986 GSJA Pondok Makmur kini digembalakan Pdt.Barlin Sileng dibantu oleh isteri tercintanya, PI.Yustina Maria Bukifan dan tahun 1987   GSJA Kedaung Sepatan yang kini namanya GSJA “Sion Worship Service” Kedaung digembalakan oleh Pdt.Alfri Ferry Rompas yang didampingi isteri tercintanya, Pdt.Sri Saraswati.
            GSJA Duri A III membuka cabang gerejanya antara lain: GSJA Batu Ceper Jl.Mutiara digembalakan oleh Pdt.Djoko Widijatno pada Maret 1985, GSJA Serpong (kini namanya GSJA “Anugerah” Sari Mulya) pada tanggal Nopember 1985 yang sekarang digembalakan Pdt.Dwi Muryani (d/h Pdt.Purwanto alm. Suami Pdt Dwi Muryani). Pdt.Dwi Muryani dalam pelayanan penggembalaannya dibantu oleh Pdp.Jeffri Darma.
            Pada tahun 1987 dimulailah perintisan GSJA Rempoa, Ciputat, Kota Tangerang Selatan yang sempat digembalakkan oleh Pdt.Rico Ismanto melanjutkan penggembalaan perintis mula-mula yang kemudian pada tahun 2007 Gereja ini digembalakkan oleh Pdt.Parsaoran Pasaribu didampingi isterinya, Pdp.Lastaria Saragih. 
            GSJA Grogol Jakarta Barat membuka gereja cabangnya di Perumahan Taman Jati Permai pada Oktober 1989 dikenal sebagai GSJA “Kanaan” Taman Jati Permai yang dikini digembalakan oleh Pdt.Marsintha Sitompul. Pdt.Marshintha Sitompul dalam pelayanan penggembalaannya dibantu oleh Pdp.Umar Mian dan PI.Jojor Nauli Siringoringo.
            GSJA Sewan dirintis dan digembalakan oleh Pdt.Peter Wahyudi  sejak bulan Desember 1989. Kini pelayanan penggembalaan oleh Pdt.Peter Wahyudi dibantu juga oleh Pdp.Erlina Wijaya, PI.Rudi Martianus, PI.Sri Hairtina dan PI.Reuben Wahyudi.

Periode Tahun 1990-1999
GSJA Jl.Duri A III, Jakarta yang saat itu digembalakkan oleh Pdt.Rinaldi Wijaya (almarhum dikenal dengan nama panggilannya “Om Tjiong”) membuka perintisan di Kota Serang yang kemudian disebut sebagai GSJA Serang yang akhirnya sekarang berlokasi  di Jl.Kapten Suwardo No.44, Kota Serang digembalakkan oleh Pdt.Panji Suyatno sejak Pebruari 1992. Pelayan Injil GSJA Jl.Kapten Suwardo No.44 Kota Serang antara lain Pdt.Panji Suyatno, Pdt.Lydia Kumolontang dan Pdm.Bondan Suyatno.
Tidak hanya itu saja GSJA Jl.Duri A III,Jakarta tersebut juga membuka perintisan baru di Perumahan Dasana Indah yang lebih dikenal sebagai kawasan Bonang singkatan dari Bojong Nangka pada Agustus 1994 yaitu GSJA “Isa Almasih” Bonang yang kini digembalakan oleh Pdt.Jenny S.Kosasih didampingi oleh Pdt.Devi sebagai wakilnya.Adapun Pelayan Injil yang membantu pelayanan penggembalaan GSJA “Isa Almasih” Bonang antara lain: Pdt.Yesaya Eddy Sumarno, Pdm.Aries Wijaya, Pdm.Elinawati Sidabutar dan PI Harapan Pane.
Selanjutnya, GSJA “Isa Almasih” Bonang mengadopsi dan membina pelayanan GSJA Rancasari yang dirintis oleh Om Tjiong (alm) tahun 1995 dan kebaktian umum  minggu dimulai tahun 1997 dan sempat digembalakan oleh Pdt.Purwanto (alm.) lalu Pdt.Dwi Muryani, selanjutnya mulai tanggal 21 Juni 2007 hingga sekarang digembalakkan oleh Pdt.Rutij Yohanna dibantu oleh PI.Tham Yanti.
Pada tanggal 7 Maret 1996 Pdt.Matdiun Manalu dengan semangat tinggi untuk melayani Tuhan memulai perintisan GSJA “New Bethesda” (awalnya namanya Bethesda saja) di Perumahan Palem Semi Karawaci yang kemudian bergabung dengan GSJA pada tahun 1998 dengan alasan mendasar  bahwa Pdt.Matdiun Manalu yang adalah seorang pengusaha mau dipakai Tuhan dan Gembala Sidangnya di GPdI (asal gerejanya pada waktu itu) menurutnya tidak peduli dengan anak Tuhan yang tinggal di pedesaan, sehingga Pdt.Matdiun Manalu menjemput jiwa-jiwa yang dimenangkan dan dimuridkan dalam pelayanannya mulai dari Cikande, Balaraja, dan Taman Adiyasa membawanya ke GSJA “New Bethesda” Palem Semi Karawaci. Pdt.Matdiun Manalu dalam pelayanannya dibantu oleh isteri tercinta, Pdt.Rosmiaty Romagorga, juga Pdm.Helberin Tinambunan, Pdm.Selamet Silitonga, Pdp.Rosta Sihombing, PI Hanter, dan lain-lainnya.
Tanggal 19 Nopember 1996 dimulai perintisan GSJA Villa taman Bandara yang dirintis dan digembalakan oleh Pdm.Jornimus S.Metkono hingga sekarang.
            GSJA Makmur Jakarta yang digembalakan Pdt.Johanes Setiawan Rusli membuka cabang gerejanya di Perumahan Poris Indah yaitu GSJA Poris Indah Jl.Mawar I Blok C III No.31 tahun 1992 dan tahun 1997 GSJA Banjar Wijaya digembalakan oleh Pdt. Aries Setiawan Rusli.
GSJA “Lahai El Roi” dirintis pada Agustus 1993 dan sampai sekarang digembalakkan oleh Pdt.Toni Pandiangan awalnya berlokasi di Ruko, Gaplek, Pondok Cabe karena resolusi penutupan seluruh gereja di kompleks ruko tersebut akhirnya berpindah sementara waktu memakai ruangan ibadah GSJA Rempoa Ciputat, dan kini telah mengupayakan pembangunan gedung gerejanya di Jl.Kunir, Pondok Cabe Udik, Pamulang. Sementara ini GSJA “Lahai El Roi” Pamulang menyewa di Ruko Mutiara Blok A 10 Ciputat untuk melaksanakan ibadah dan kegiatan pelayanannya.  Pdm.Rondauli Sihombing dengan setia mendampingi pelayanan suaminya, Pdt.Toni Pandiangan.
Beberapa gereja di Banten berasal dari  GSJA Jl.Bandengan Selatan No.41B Jakarta Barat digembalakan oleh Pdt.Jonathan Pribadi membuka gereja cabangnya di Karawaci tepatnya Jl.Imam Bonjol, Karawaci yang kemudian hari dikenal sebagai GSJA “Graha Mana” Karawaci digembalakan oleh Pdt.Bambang Sationo dan juga GSJA Poris Indah yang kemudian hari bernama GSJA “Victory Fotress” Poris Indah digembalakan oleh Pdt.Samuel Hartono sesuai Surat Rekomendasi dari Pdt.Jonathan Pribadi Gembala Sidang GSJA  Jl.Bandengan Selatan No.41B Jakarta Barat (dulunya GSJA Jl.Jembatan Hitam Dalam No.21 Jakart Barat) No.011/SK/BPD/X/93 tertanggal 5 Oktober 1993 yang ditujukan kepada BPD GSJA DKI Jaya/Jabar/SumBagSel.
            Pada Maret 1995 Pdt.Djoko Widijatno merintis dan menggembalakan GSJA Regency yang berlokasi di PerumahanVila Tangerang Regency I hingga ini. Dalam pelayanan penggembalaannya, Pdt.Djoko juga dibantu oleh Pdm.Royen Han.
            Pdt.Stanley Ahimsa selaku Gembala GSJA Puri Kembangan Jakarta Barat pada Mei 1996 dengan dibantu oleh salah seorang pengurus gerejanya, Bapak Hendro membuka cabang gerejanya di Perumahan Graha Raya sekarang menjadi GSJA Graha Raya. Pdt.Stanley Ahimsa meninggal dunia pada 12 Pebruari 2012 dan kini  GSJA Graha Raya digembalakan oleh Pdt.Ivonne Ahimsa dibantu oleh wakilnya, Pdt.Epenetus Salman beserta isterinya, Pdt.Susan Pudiwan.
GSJA Puri Lestari Pdt.Oey Oen Bie (Pdt.Obed Wibowo) merintisnya pada tahun 1998 dan digembalakannya hingga kini.
GSJA “Lahai El Roi” pada Agustus 1993, Pdt.Toni Pandianganmerintis dan mulai menggembalakkannya Pdt.Toni Pandiangan awalnya berlokasi di Ruko, Gaplek, Pondok Cabe karena resolusi penutupan seluruh gereja di kompleks ruko tersebut akhirnya berpindah sementara waktu memakai ruangan ibadah GSJA Rempoa Ciputat, dan kini masih mengupayakan pembangunan gedung gerejanya di Jl.Kunir, Pondok Cabe Udik, Pamulang. Sementara ini GSJA “Lahai El Roi” Pamulang menyewa di Ruko Mutiara Blok A 10 Ciputat untuk melaksanakan ibadah dan kegiatan pelayanannya. 
GSJA “CWS Kenanga” membuka cabang gerejanya dibilangan Lippo Karawaci yang kemudian dikenal sebagai GSJA “CWS Aletheia” Lippo Karawaci digembalakan oleh Pdt.Davy Frangky Jousie Sondakh sejak tanggal Juli 1999.

Periode 2000-2010
            Juga GSJA Jl.Batu Tulis No.53 Jakarta Pusat membuka gereja cabangnya di bilangan Perumahan Gading Serpong atau kemudian hari dikenal sebagai GSJA Gading Serpong digembalakan oleh Pdt.Sukamto sejak April 2001. Beberapa Pelayan Injil yang membantu pelayanan Pdt.Sukamto antara lain: Pdp.Dwi Haryono, Pdp.Herry Sugianto dan Pdp.Wesly Hambuako.
            Pada Agustus 2003, Pdt.Samuel Darmanto melanjutkan pelayanan penggembalaan GSJA Teluk Naga yang kemudian namanya menjadi GSJA “City Blessing”. GSJA Teluk Naga sempat digembalakkan oleh Pdt.Yusak Siru (alm.) sampai dengan Juli 2003. Dalam pelayanan penggembalaannya Pdt.Samuel Darmanto dibantu oleh Pdp.Yonatan Purnomo.
            Akhir tahun 2003 dirintislah GSJA Griya Dadap Estate oleh Pdp.Leodehon Suprayogi bersama istirnya Pdp.Kurniawati Zebua, lalu menggembalakannya sampai sekarang. Perintisan ini merupakan cabang gereja dan binaan dari GSJA Bandengan Selatan Jakarta.
            Pada tahun 2005 GSJA Prima awalnya dirintis oleh Bapak  Andi Wijaya (alm.) dan Pdt.Djohanes Boentara dengan penggembalaan oleh Bpk.Andi Wijaya (alm) yang kemudian sekarang dilanjutkan oleh Pdt.Djohanes Boentara. Sekarang ini pelayanan Pdt.Djohanes Boentara dibantu oleh Pdp.Ezra.
GSJA Jl.Cendrawasih Jakarta Barat membuka gereja cabangnya GSJA Duta Bandara yang digembalakan Pdt.Heamprie Yosia sejak Mei  2005
GSJA Jabes Prayer Center BSD City dirintis pada Mei 2006 dan sampai sekarang digembalakkan oleh Pdt.Andreas Samiyono yang dibantu oleh isterinya Pdt.Lenoor Z.H Liklikwatil.
            Pada 19 Maret 2007 mulailah dirintis GSJA “Mercy For All Nations” CitraRaya yang awalnya Ibadah Raya dilakukan di rumah gembala sidang, Pdt.Yusuf Eko Widiarto, lalu mengontrak Ruko City Market T 1 No.10 dan sejak tahun 2010 hingga kini telah berlokasi di Perumahan CitraRaya, Taman Puspita Blok I 10 No.67/R, Cikupa, Kabupaten Tangerang.
GSJA “CWS Eierene Family Center” dirintis pada Nopember 2007 oleh Pdt.Piet Hien Mailangkay yang akhirnya penggembalaan diteruskan oleh Pdp.Suriadi Leli yang sekarang ini dibantu oleh dua orang staff penggembalaan yaitu Pdp.Nivke Elisabet Siwu dan PI Jonatan Parulian Siagian.
Di Tahun 2007 juga dimulailah ibadah raya minggu perdana di rumah keluarga Pdm.Fiece W Sumolang di Jl,Suka Mulya Ciputat hingga berpindah menggunakan Gedung GKPM “Paulus” Ciputat.Sempat Pdm.Melvin B Wawolumaja menggembalakkan Gereja ini, tetapi karena kesibukannya dan berbagai pertimbangan yang ada, maka penggembalaan dilaksanakan oleh Pdm.Fiece W Sumolang.  
Pada Juli 2008, Pdt.Davy FJ.Sondakh oleh sekumpul orang percaya yang telah bersekutu diminta untuk menggembalakan GSJA “CWS Kasih Karunia Yesus” yang berlokasi di Perumahan Modern Kota Tangerang.
GSJA “Hopeful Service Bintaro” dirintis tahun 2010 dan digembalakkan oleh Pdt.Epenetus Salman, tetapi akhirnya tidak dilanjukan pelayanannya karena berbagai pertimbangan yang ada termasuk berkenaan dengan kemitraan misinya.
GSJA Taman Adiyasa dirintis pada tanggal 19 Maret 2010 oleh Pdt.Yusuf Eko Widiarto kemudian penggembalaan dilanjutkan oleh Pdt.Erliana pada tanggal 25 Desember 2011.
Pada Agustus 2010 dimulailah ibadah GSJA “Pondok Firman” Karawaci oleh Pdm.Sri Harta dengan memanfaatkan lokasi tanah rumah jemaat disamping lokasi pemakaman Tanah Cepek Karawaci.
Pada 17 Oktober 2010 dimulailah ibadah GSJA “Isa Almasih Jemaat Cinta Kasih” berlokasi di Ruko Boulevard Blok A/8 Victoria Park Ligamas Kota Tangerang yang kini digembalakan oleh Pdt.Jenny S.Kosasih yang dibantu oleh Pdt.Andre Loupatty.

Periode 2011 – hingga sekarang
Pada 10 Januari 2012 dimulailah pelayanan perintisan GSJA “Mempelai Kristus” di Kecamatan Jombang, Kota Cilegon Wilayah Banten Barat oleh PI Mudjiyono Khillyon.
Pada 12 Januari 2012 karena ‘goncangan’ dalam organisasi, maka GSJA “CWS House of Grace” BSD (penggembalaan Pdt.Herry Wuntu) dan GSJA “CWS Grand Poris” (penggembalaan Pdm.Jimmy Tok) mengundurkan diri dari GSJA di Indonesia dan bergabung dengan sinode Gereja lainnya.
Setelah diputus kontrak kemitraan misinya dengan sebuah Gereja di Jakarta pada Desember 2010, Pdt.Herri LS Engka bersama isterinya, Pdm.Jane M.Mamahit memulai perintisan dan penggembalaan GSJA “Jemaat Anugerah” pada tanggal 11 Januari 2011 berlokasi di Kramatwatu Serang lalu berpindah ke Kompleks Taman Kopassus Group 1 Kota Serang hingga kini.
            Pada bulan Mei 2012 dimulailah Ibadah Raya sebagai tanda dirintisnya GSJA CWS “Batu Karang” Kota Cilegon hingga kini  digembalakan oleh Pdp.Algren Tambunan dibantu oleh istrinya, Pdp.Lindawati.
Pada tanggal 26 Agustus 2012 dimulai perintisan baru GSJA Solear merupakan Pos PI dari GSJA Taman Adiyasa yang digembalakan oleh Pdt.Erliana yang membina seorang pelayan kaum awam (Bpk.Iwan telah merintis GSJA Solear-sedang dipersiapkan menjadi Pelayan Injil). Demi efektifitas dan fokus pengembangan perintisan yang ada disetujui adanya penggabungan dua perintisan GSJA Taman Adiyasa dan GSJA Solear karena sama-sama belum memiliki tempat ibadah sendiri dengan diketahui dan disetujui oleh Pdt.Yusuf Eko Widiarto selaku pembina perintisan ini  akhirnya disepakati penggabungan jemaat Taman Adiyasa dan Solear pada Minggu, 30 Desember 2012. Oleh karena nama Solear adalah Kota Kecamatan sehingga Gereja ini dikemudian hari sebagai GSJA Solear tetapi lokasi Gereja di Perumahan Taman Adiyasa yang lebih kondusif dan berkembang terbukti telah berjalan kegiatan ibadah dan pelayanan selama 2 tahun.
            Pada tanggal 3 Januari 2013 Pdt.Patrick James Cochenour bersama istri tercintanya, Pdt.Linda Ann Cochenour merintis GSJA “International Mount Hope” di Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. Pelayanan dalam bahasa Inggris ini merupakan pelayanan pertama dalam sejarah GSJA di Banten.
            Bulan Januari 2013 tidak hanya GSJA “International Mount Hope” saja yang dibuka menyusul kemudian Pdt.Ferry Tabaleku dan istrinya, PI.Hanna Susilowati memulai pelayanan perintisan GSJA “The New Life Covenant” berfokus untuk penjangkauan wilayah Alam Sutera dan sekitarnya. Juga, PI.Adi Nugroho bersama istrinya PI.Rieska Astari juga telah memulai pelayanan perintisan baru GSJA berlokasi di kompleks Ruko L’Agricolla Gading Serpong, Kabupaten Tangerang dengan nama “New Life”.
            BPD GSJA Banten telah resmi mengeluarkan Surat Tugas bagi pelaksanaan ketiga perintisan Gereja baru tersebut, bahkan menyampaikannya dalam Rapat Majelis Pusat GSJA di Indonesia tanggal di Jakarta, dimanA GSJA Banten diwakili oleh Ketua BPD GSJA Banten, Pdt.Davy F.J.Sondakh dari tanggal 22 s/d 25 Januari 2013.

Penutup
            Dalam berbagai situasi yang sulit pun gereja baru dibuka oleh karena pertolongan Tuhan semata-mata dan pimpinan-Nya kepada setiap Pelayan Tuhan yang ada. Kuasa Roh Kudus menyertai dalam setiap pelayanan GSJA di Banten hingga kini. Puji Tuhan!        
Karena terbatasnya data yang diterima oleh Penyusun, maka mohon maaf jika ada penyebutan tanggal perintisan dan pelayanan Pelayan Injil yang belum tepat, atau  nama gereja belum dicantumkan atau disebutkan, serta lokasi gerejanya.
            “Tak ada gading yang tak retak”, penyusunan “SEJARAH PELAYANAN GSJA-KU SAYANG DI BANTEN “ ini masih sangat sederhana dan belumlah sempurna sehingga sangat perlu dilakukan penyusunan ulang atau penyempurnaan pada waktu yang akan datang oleh Tim Penyusun sejarah pelayanan GSJA di Banten agar dapat memberikan pelajaran bermakna bagi pertumbuhan GSJA di Banten.
            Soli Deo Gloria! Segala kemuliaan bagi Tuhan saja!



Sumber Referensi:

___________. Data Base Gereja Se-Provinsi Banten. Formulir dari Kanwil Kementerian  
             Agama Provinsi Banten diterima BPD  GSJA Banten pada tanggal 1 April 2011.
___________. Buku Agenda Rapata Kerja Daerah GSJA Banten Tahun 2009. Bogor:
             Pondok Remaja PGI, 5-7 Oktober 2009.
___________. Buku Agenda Rapata Kerja Daerah GSJA Banten Tahun 2011. Bogor:
             Pondok Remaja PGI, 8-10 Maret 2011.
___________. Buku Agenda Rapata Kerja Daerah GSJA Banten Tahun 2012. Cipanas:
             Hotel Yasmin, 6-8 Maret 2012.
­___________. Profil Pelayan Injil dan Gereja Lokal-Perintisan GSJA di Indonesia Daerah
             Banten Tahun 2010. Dibagikan kepada seluruh Peserta Rapat Kerja Daerah tanggal 8-
             10 Maret 2011 di Pondok Remaja PGI Bogor, Jawa Barat.
_________. Lembar Formulir Identitas Gereja versi Kanwil Kementerian Agama Propinsi
Banten. Formulir untuk pembuatan Surat Tanda Lapor Gereja pada Kanwil Kementerian
Agama Propinsi Banten tahun 2010 dan tahun 2012.
Widiarto, Yusuf Eko. Program Kerja Wilayah II GSJA Banten Periode 2007 s/d 2008.
             Disosialisasikan dalam Pertemuan Pelayan Injil Wilayah tanggal 1 Juni 2007.
http://www.gsja.org/tentang-gsja/sejarah/
http://gsjabanselatan.blogspot.com/2012/01/sejarah-gsja.html
http://www.gsjabatutulis.com/about-us/sejarah
http://bpdgsjabanten1.blogspot.com/p/halaman-utama.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Charismatic_Worship_Service


 Catatan: Artikel ini tulisan Pdt Yusuf Eko Widiarto (Sekretaris BPD GSJA Banten) sebagai bahan Buku Agenda Rapat Daerah GSJA Banten bersumber dari data-data yang masuk selama ini dan beberapa data telah di check ulang dengan pelaku sejarah/perintis gereja tetapi sebagian yang lain belum sempat di check.Karena itu coretan pertama ini sangatlah sederhana membutuhkan kritik dan masukkan membangun berupa data, kesaksian yang akurat, dan di masa yang akan datang sangat perlu ada Tim Penyusun sejarah pelayanan ini sehingga setiap pelayan Injil dan Jemaat GSJA di Banten memahami sejarah yang ada dan semangat melayani Tuhan, akhirnya nama Tuhan dimuliakan!